Jam menunjukkan pukul 07:15 pagi. Anda baru saja mengambil tiga tegukan pertama dari secangkir kopi hitam hangat Anda. Ajaibnya, bahkan sebelum cangkir itu sempat mendingin, sesuatu di dalam perut Anda mulai ‘terbangun’. Hanya dalam hitungan menit, sebuah sinyal yang familier namun mendesak muncul. Sebuah ‘panggilan alam’ yang tidak bisa ditawar-tawar. Anda bergegas ke kamar mandi, sambil bertanya-tanya untuk kesekian kalinya, "Apa yang sebenarnya ada di dalam kopi ini?" Jika skenario ini terasa sangat akrab, Anda tidak sendirian. Ini adalah salah satu rahasia umum terbesar di antara para peminum kopi, sebuah fenomena yang sering dibicarakan sambil berbisik atau tertawa canggung. Pertanyaan kenapa kopi bikin mules adalah salah satu pencarian paling jujur di internet, dan jawabannya jauh lebih kompleks dan menarik daripada yang Anda duga. Ini bukan sekadar ‘sugesti’; ini adalah reaksi kimia dan biologis yang cepat dan kuat, dan ya, ini sepenuhnya normal.
Hal pertama yang dituduh oleh kebanyakan orang adalah biang keladi yang sudah jelas: kafein. Ini adalah tebakan yang sangat logis. Kafein adalah stimulan psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Ia membangunkan otak kita, meningkatkan detak jantung kita, dan secara umum ‘mempercepat’ sistem saraf kita. Jadi, sangat masuk akal jika ia juga ‘mempercepat’ sistem pencernaan kita. Kafein memang memiliki efek stimulasi ringan pada otot-otot usus. Namun, kafein bukanlah satu-satunya pelaku, dan mungkin bukan pelaku utamanya.
Plot twist-nya ada di sini: penelitian ilmiah secara konsisten menunjukkan bahwa kopi dekafeinasi (decaf) memicu respons usus yang serupa, meskipun mungkin sedikit lebih lemah, dibandingkan dengan kopi berkafein. Di sisi lain, minuman berkafein tinggi lainnya, seperti minuman energi atau soda, tidak memiliki ‘efek panggilan alam’ yang sama kuatnya dengan kopi. Ini membuktikan bahwa ada ‘sesuatu’ yang lain di dalam minuman hitam pekat ini—sebuah koktail kimia kompleks—yang bertanggung jawab atas sinyal "darurat" ke kamar mandi tersebut. Jika bukan hanya kafein, lalu apa?
Jawabannya terletak pada salah satu komponen yang paling dibanggakan oleh kopi: asam. Kopi mengandung ratusan senyawa kimia, tetapi biang keladi utamanya adalah sekelompok antioksidan yang disebut Asam Klorogenat (Chlorogenic Acids). Asam-asam inilah yang bertanggung jawab atas banyak manfaat kesehatan kopi, tetapi mereka juga yang memulai reaksi berantai di perut Anda. Ketika asam klorogenat ini—bersama dengan senyawa lain—masuk ke lambung Anda, mereka memicu pelepasan hormon yang disebut Gastrin.
Anda bisa membayangkan Gastrin sebagai ‘manajer’ lantai pabrik pencernaan Anda. Begitu Gastrin dilepaskan, ia langsung berteriak kepada dinding lambung, "Hei, ada ‘tamu’ masuk! Nyalakan mesinnya!" Perintah ini memicu produksi asam lambung (asam klorida) dalam jumlah besar. Ini adalah langkah pertama pencernaan, yang dirancang untuk memecah protein dan mensterilkan apa pun yang Anda telan. Lonjakan keasaman yang tiba-tiba di lambung ini adalah sinyal pertama dalam estafet pencernaan. Ini adalah domino pertama yang jatuh, memberi tahu seluruh sistem di ‘hilir’ bahwa gelombang baru akan segera datang dan mereka lebih baik bersiap-siap.
Namun, domino yang paling penting jatuh bukan di lambung, melainkan jauh di bawah: di usus besar atau kolon Anda. Kopi, baik berkafein maupun tidak, telah terbukti secara dramatis meningkatkan aktivitas motorik di usus besar. Ini adalah aksi utamanya. Dalam istilah ilmiah, kopi merangsang gerak peristaltik. Ini adalah gelombang kontraksi otot yang ritmis dan tidak disadari di sepanjang dinding usus Anda, yang berfungsi mendorong ‘isinya’ ke arah pintu keluar (rektum). Kopi tidak hanya ‘membangunkan’ gerak peristaltik ini; ia membuatnya bekerja lembur dengan kekuatan penuh.
Studi yang membandingkan efek kopi dengan air putih menunjukkan perbedaan yang mencolok. Air hampir tidak menimbulkan kontraksi di usus besar. Kopi, di sisi lain, memicu kontraksi yang 60% lebih kuat daripada air panas dan 23% lebih kuat daripada kopi dekafeinasi. Dalam beberapa kasus, kekuatan kontraksi yang dipicu oleh secangkir kopi bahkan setara atau lebih kuat daripada kontraksi yang disebabkan oleh makan besar. Jadi, ketika Anda minum kopi, Anda pada dasarnya sedang menekan ‘tombol turbo’ untuk usus besar Anda, memerintahkannya untuk membersihkan ‘landasan pacu’ secepat mungkin.
Hal yang paling mencengangkan dari fenomena ini adalah kecepatannya. Banyak orang melaporkan merasakan dorongan itu hanya dalam empat hingga sepuluh menit setelah minum kopi. Ini adalah bukti kuat bahwa efeknya bukanlah murni pencernaan—jelas, kopi itu sendiri belum mencapai usus besar Anda dalam waktu sesingkat itu. Sebaliknya, ini adalah respons yang dimediasi oleh sistem saraf dan hormon, yang dikenal sebagai refleks gastrokolik. Tindakan minum kopi (kombinasi kehangatan, keasaman, dan senyawa kimianya) mengirimkan sinyal neurologis dari lambung langsung ke usus besar. Ini adalah jalur komunikasi super cepat di ‘poros usus-otak’ (gut-brain axis) yang pada dasarnya mengatakan: "Masukan baru terdeteksi di atas. Kosongkan ruang di bawah. Sekarang."
Tentu saja, ada faktor-faktor lain yang bisa memperkuat efek ini. Apa yang Anda tambahkan ke kopi Anda sangat berpengaruh. Bagi banyak orang, terutama di Indonesia, ‘ngopi’ berarti ‘es kopi susu gula aren’. Jika Anda termasuk orang yang merasakan ‘panggilan’ lebih kuat setelah minum kopi berbasis susu, pelakunya mungkin bukan hanya kopi. Sekitar 65% populasi orang dewasa di dunia memiliki tingkat intoleransi laktosa (gula dalam susu). Tubuh mereka tidak menghasilkan cukup enzim laktase untuk memecah susu, yang menyebabkan gas, kembung, dan seringkali, diare. Dalam kasus ini, Anda mengalami ‘efek ganda’: dorongan dari kopi ditambah dorongan dari intoleransi laktosa.
Jadi, setelah mengetahui semua ini, pertanyaan besarnya adalah: Apakah ini normal? Apakah ini pertanda buruk? Jawabannya, bagi sebagian besar orang, adalah: Ini 100% normal dan sama sekali tidak berbahaya. Bagi banyak orang, ini bahkan merupakan bagian yang bermanfaat dari ritual pagi mereka. Mereka bergantung pada kopi pagi untuk menjaga keteraturan sistem pencernaan mereka. Ini adalah respons fisiologis yang dapat diprediksi terhadap stimulan alami. Ini bukan tanda penyakit, melainkan tanda bahwa sistem pencernaan Anda sangat reseptif dan efisien dalam merespons sinyal kimia.
Namun, ada pengecualian kecil yang penting. Kopi bukanlah penyebab penyakit pencernaan, tetapi ia bisa menjadi pemicu bagi mereka yang sudah memiliki kondisi tertentu. Jika ‘mules’ Anda disertai dengan rasa sakit yang parah, kram yang hebat, darah, atau diare kronis yang berlangsung sepanjang hari, Anda harus berkonsultasi dengan dokter. Ini bisa jadi tanda bahwa kopi memperburuk kondisi yang sudah ada sebelumnya, seperti IBS (Irritable Bowel Syndrome) atau penyakit radang usus. Bagi orang-orang ini, mengurangi konsumsi kopi mungkin merupakan langkah yang bijak. Tetapi bagi kita semua yang hanya mengalami ‘panggilan alam’ 10 menit yang dapat diprediksi setelah cangkir pertama, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Pada akhirnya, memahami sains di balik ‘panggilan alam’ ini bukanlah sekadar trivia kopi. Ini adalah tentang menghilangkan satu kecemasan kecil dalam hidup. Di dunia yang penuh dengan stres tentang apa yang ‘normal’ dan apa yang ‘salah’ dengan tubuh kita, pengetahuan ini memberikan kelegaan. Ini mengubah momen yang tadinya mungkin terasa memalukan atau mengkhawatirkan menjadi sebuah penegasan yang sederhana: "Ah, sistem saya berfungsi sebagaimana mestinya." Ini adalah tentang melepaskan satu kekhawatiran yang tidak perlu, membiarkan kita menikmati ritual pagi kita dengan sedikit lebih damai, dan memulai hari dengan tubuh yang terasa siap dan pikiran yang jauh lebih tenang.
