Bukan Motivasi ‘Teriak-Teriak’: Mengapa Jutaan Orang ‘Nyaman’ Belajar Produktivitas dari Ali Abdaal

Dunia self-help di internet terasa sesak. Kita dibombardir oleh ‘guru’ produktivitas yang berteriak-teriak, menyuruh kita ‘bangun jam 4 pagi!’, ‘hustle 24/7!’, dan ‘tidur kalau sudah mati!’. Retorika agresif ini mungkin berhasil untuk sebagian orang, namun bagi kebanyakan dari kita, itu hanya menambah kecemasan dan rasa lelah. Namun, di tengah kebisingan itu, muncul satu sosok dokter muda dari Inggris yang berbicara dengan tenang, santai, dan… sangat masuk akal. Namanya Ali Abdaal. Ia tidak menjual mimpi ‘kaya dalam 30 hari’. Ia justru menawarkan sesuatu yang jauh lebih langka: sebuah pendekatan santai berbasis sains tentang cara menjadi produktif tanpa harus membenci prosesnya. Fenomena globalnya, dengan jutaan pengikut, bukanlah kebetulan. Ia adalah pionir dari sebuah genre baru yang diam-diam kita nikmati saat sedang bersantai: productive entertainment.

Untuk memahami mengapa Ali Abdaal begitu digemari, kita harus melihat siapa dia. Sebelum menjadi YouTuber penuh waktu, ia adalah seorang dokter junior di NHS (Layanan Kesehatan Nasional) Inggris, lulusan dari universitas bergengsi, Cambridge. Latar belakang ini sangat krusial. Audiensnya, yang sebagian besar terdiri dari pelajar, profesional muda, dan pekerja kreatif, melihatnya bukan sebagai motivator, melainkan sebagai ‘salah satu dari kita’—seseorang yang harus berhadapan langsung dengan ujian berisiko tinggi, jam kerja yang panjang, dan tuntutan kognitif yang ekstrem. Kredibilitasnya tidak dibangun di atas janji-janji muluk, tetapi di atas bukti nyata bahwa ia harus benar-benar efisien untuk bisa bertahan di sekolah kedokteran dan membangun bisnis sampingan secara bersamaan.

Di sinilah letak perbedaan fundamental pertama: gayanya yang "anti-guru". Ali Abdaal tidak pernah berteriak. Ia tidak akan menyuruh Anda untuk ‘menghancurkan’ tujuan Anda. Sebaliknya, ia berbicara ke kamera seolah-olah ia adalah teman pintar Anda yang baru saja menemukan life hack keren dan ingin membaginya dengan Anda. Estetika videonya cerah, bersih, dan seringkali menampilkan dirinya sendiri yang sedang berjuang melawan penundaan (prokrastinasi) atau mencoba mengatur file Notion-nya yang berantakan. Ia sangat transparan, baik secara finansial (terkenal dengan laporan pendapatan bulanannya yang terperinci) maupun secara emosional. Ia secara terbuka membahas kegagalannya, keragu-raguannya, dan momen-momen saat ia merasa tidak produktif. Kerentanan inilah yang menjalin ikatan. Ia tidak memposisikan dirinya di atas mimbar, melainkan di seberang meja kopi, berkata, "Hei, ini sulit, tapi ini ada cara yang mungkin bisa membantu."

Elemen kedua, dan bisa dibilang yang paling penting, adalah substansinya. Konten Ali Abdaal bukanlah ‘motivasi kosong’; ia ‘berdaging’ dan berbasis bukti. Alih-alih mengatakan "belajarlah lebih giat," ia akan menjelaskan secara rinci metode Active Recall dan Spaced Repetition*—dua teknik belajar berbasis kognitif yang ia gunakan untuk lulus ujian kedokteran. Ia tidak hanya menyuruh Anda "mengatur waktu," ia akan membedah buku seperti Atomic Habits oleh James Clear atau Getting Things Done oleh David Allen, dan menunjukkan dengan tepat bagaimana ia menerapkannya dalam software seperti Notion atau Todoist. Ia mempopulerkan konsep-konsep dari psikologi dan ekonomi perilaku, seperti Parkinson’s Law (pekerjaan akan mengembang mengisi waktu yang tersedia) atau Eisenhower Matrix (penting vs. mendesak).

Pendekatan yang berbasis sains ini sangat menarik bagi audiens yang cerdas dan sedikit skeptis. Kita sudah lelah dengan nasihat generik. Kita menginginkan ‘mengapa’-nya. Ali Abdaal memberikannya. Dengan mengutip studi, buku, dan pengalamannya sebagai dokter, ia mengubah konsep produktivitas dari sesuatu yang bersifat emosional (merasa termotivasi) menjadi sesuatu yang bersifat sistematis (memiliki alat yang tepat). Menonton videonya terasa seperti kuliah ringan yang menyenangkan. Anda tidak hanya merasa terinspirasi; Anda merasa lebih pintar. Anda merasa seolah-olah telah dibekali dengan perangkat mental yang nyata untuk menghadapi minggu kerja Anda.

Ini membawa kita pada konsep inti dari daya tariknya: Productive Entertainment (Hiburan yang Produktif). Mari kita jujur, banyak dari kita menonton video Ali Abdaal di malam hari setelah bekerja, atau di akhir pekan saat kita sedang bersantai. Kita mungkin tidak langsung membuka spreadsheet atau mulai menulis esai. Kita menontonnya… sebagai hiburan. Ini adalah fenomena psikologis yang menarik. Kita merasa lelah dan ingin bersantai (seperti menonton Netflix), tetapi kita juga merasa sedikit bersalah jika hanya bersantai (perasaan ‘harus produktif’ yang terus mengintai). Ali Abdaal duduk manis di tengah-tengah. Menonton video ulasan iPad terbarunya untuk produktivitas, atau melihat vlog hariannya, terasa seperti hiburan, tetapi otak kita mencatatnya sebagai ‘produktif’. Kita sedang ‘belajar’ tentang cara menjadi lebih baik.

Genre ini adalah ‘jalan tengah’ yang sempurna bagi generasi knowledge worker yang overload informasi. Ini adalah produktivitas yang tidak mengintimidasi. Video-videonya tentang setup meja kerja, review software, atau vlog "satu hari dalam hidup" memungkinkan kita untuk ‘mengintip’ ke dalam kehidupan seseorang yang tampaknya ‘sudah berhasil’, dan mengambil inspirasi dari hal-hal kecil. Kita mungkin tidak akan membangun sistem Notion serumit miliknya, tetapi kita mungkin terinspirasi untuk akhirnya merapikan folder download kita. Ini adalah produktivitas yang disajikan sebagai gaya hidup yang aspiratif namun tetap bisa dicapai.

Seiring waktu, Ali Abdaal telah berevolusi dari sekadar YouTuber menjadi seorang pengusaha kreatif yang utuh. Ia meluncurkan kursus online-nya yang sangat sukses (Part-Time YouTuber Academy), menulis buku best-seller (Feel-Good Productivity), dan menjadi host podcast Deep Dive di mana ia mewawancarai tokoh-tokoh sukses lainnya. Evolusi ini sendiri adalah bagian dari daya tariknya. Audiensnya, yang banyak di antaranya juga bercita-cita menjadi content creator atau membangun ‘passive income’, melihatnya sebagai cetak biru. Ia tidak hanya mengajarkan cara menjadi produktif; ia adalah studi kasus hidup tentang apa yang terjadi ketika Anda menerapkan prinsip-prinsip tersebut secara konsisten. Ia mempraktikkan apa yang ia khotbahkan, dan hasilnya terlihat nyata.

Pada akhirnya, fenomena Ali Abdaal bukanlah tentang satu orang. Ini adalah cerminan dari pergeseran budaya. Kita beralih dari ‘hustle culture’ yang toksik dan membakar habis, menuju pencarian ‘produktivitas yang terasa baik’ (feel-good productivity). Kita tidak lagi ingin ‘menaklukkan’ hari kita; kita ingin menikmati hari kita sambil tetap menyelesaikan pekerjaan penting.

Mengapa jutaan dari kita rela menghabiskan waktu berjam-jam menonton seseorang berbicara tentang cara bekerja lebih baik? Jawabannya sederhana. Itu karena kita tidak hanya mencari cara untuk menghasilkan lebih banyak output atau mencentang lebih banyak to-do list. Jauh di lubuk hati, kita semua memiliki dorongan bawaan untuk melihat seberapa jauh kita bisa melangkah. Kita ingin tahu apa potensi penuh kita. Setiap video, setiap buku, setiap teknik yang kita pelajari adalah sebuah alat baru yang kita tambahkan ke ‘sabuk’ kita, bukan untuk membuktikan diri kepada dunia, tetapi untuk menjawab pertanyaan batin kita sendiri: "Bisakah saya menjadi sedikit lebih baik dari saya yang kemarin?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *