Bukan Cuma ‘Diseduh Lalu Diteguk’: Review ‘A Film About Coffee’ yang Akan Mengubah Cara Anda Minum Kopi

Anda meneguk kopi pagi ini. Kemungkinan besar, Anda melakukannya sambil setengah sadar, mata Anda terpaku pada layar ponsel atau pikiran Anda sudah berlari kencang menuju tenggat waktu pekerjaan pertama. Saat cairan hangat itu menyentuh lidah Anda, apa yang Anda pikirkan? "Saya butuh kafein ini." "Rasanya pahit." "Sudah jam berapa sekarang?" Anda mungkin tidak memikirkan tangan seorang wanita di pegunungan Rwanda yang memetik ceri kopi itu satu per satu. Anda tidak memikirkan seorang roaster di Tokyo yang dengan cermat mendengarkan suara ‘retakan pertama’ biji kopi. Dan Anda jelas tidak memikirkan perjalanan ribuan kilometer melintasi samudra yang telah ditempuh biji itu. Inilah premis yang dibongkar habis oleh salah satu film dokumenter terbaik tentang kopi yang pernah dibuat: ‘A Film About Coffee’ (2014).

Disutradarai oleh Brandon Loper, film ini adalah sebuah surat cinta sinematik berdurasi 67 menit untuk ‘gelombang ketiga’ (third wave) kopi. Jika Anda pernah merasa bingung mengapa secangkir kopi V60 di kafe specialty harganya bisa mencapai 50 ribu rupiah, film ini adalah jawabannya. Ini bukan sekadar film; ini adalah ‘intervensi’ visual yang memaksa kita untuk berhenti sejenak dan benar-benar melihat apa yang ada di dalam cangkir kita. Film ini secara fundamental menantang gagasan kita tentang kopi sebagai komoditas murah yang instan. Ini adalah pengingat yang elegan dan kuat bahwa selama ini, kita mungkin telah minum kopi dengan cara yang salah: dengan mata tertutup.

Film ini tidak memiliki narator yang menggurui. Sebaliknya, Loper membiarkan visual dan para praktisi kopi itu sendiri yang berbicara. Strukturnya sederhana namun efektif: ia menelusuri seluruh rantai pasokan kopi, dari ‘petani’ hingga ‘barista’. Perjalanan dimulai dari tempat yang seharusnya: di sumbernya. Kita diajak mengunjungi perkebunan di Honduras dan Rwanda, tempat-tempat yang mungkin hanya kita kenal sebagai nama pada kemasan kopi. Di sinilah film ini mulai terhubung dengan apa yang telah kita diskusikan sebelumnya tentang ‘Petani Kopi’ (Hari 7). Kita melihat bahwa kopi bukanlah tanaman yang "tumbuh begitu saja". Kita diperlihatkan proses yang luar biasa padat karya: memetik hanya ceri yang matang sempurna, proses pencucian (washed) atau pengeringan (natural) yang membutuhkan keahlian agrikultural yang presisi.

Di sini, ‘A Film About Coffee’ melakukan tugas penting: ia meng-humanisasi para petani. Mereka bukanlah pekerja tanpa wajah di ladang yang jauh. Mereka adalah profesional. Kita melihat petani seperti A Gace, seorang penanam kopi wanita di Rwanda, yang berbicara tentang bagaimana kopi telah mengubah hidup komunitasnya. Film ini menyoroti bahwa di tingkat petani, kualitas bukanlah sebuah kemewahan, melainkan sebuah perjuangan. Mereka berjuang melawan cuaca, hama, dan fluktuasi harga pasar global yang brutal. Dengan menunjukkan dedikasi dan keahlian mereka, film ini secara implisit mengajukan pertanyaan: jika petani telah bekerja sekeras ini untuk menciptakan cita rasa yang luar biasa, bukankah kita di ujung rantai memiliki tanggung jawab untuk menghormati pekerjaan itu?

Setelah biji kopi dikeringkan dan dikemas, perjalanan berlanjut melintasi samudra. Kita tiba di "dunia baru": para roaster atau penyangrai kopi. Film ini membawa kita ke dalam fasilitas sangrai ikonik seperti Stumptown Coffee Roasters di Portland dan Blue Bottle Coffee. Di sinilah peran roaster diangkat menjadi seorang alkemis sekaligus ilmuwan. Mereka bukanlah sekadar "memasak" kopi hingga berwarna cokelat. Mereka adalah jembatan krusial antara niat petani dan ekspresi barista. Kita melihat mereka melakukan cupping (mencicipi) kopi dengan serius, mendiskusikan tasting notes dengan bahasa yang mirip dengan sommelier anggur. Roasting, seperti yang ditunjukkan film ini, adalah tarian presisi antara suhu dan waktu, yang dirancang untuk "membuka" potensi penuh dari biji kopi—untuk menonjolkan keasaman fruity dari biji Rwanda atau rasa cokelat nutty dari biji Honduras.

Dari roastery, kita tiba di pemberhentian terakhir: kedai kopi specialty. Di sinilah semua kerja keras sebelumnya dipertaruhkan di "mil terakhir". Barista, dalam konteks film ini, adalah seorang artisan, seorang kurator, dan penjaga gerbang terakhir dari kualitas. Kita melihat rekaman close-up yang indah dari air yang dituang dalam gerakan spiral di atas V60, espresso shot yang mengalir seperti madu kental, dan latte art yang dilukis dengan konsentrasi penuh. Ini adalah bagian yang paling akrab bagi kita sebagai konsumen. Namun, setelah mengikuti perjalanan dari pertanian, tindakan sederhana barista menuang air panas itu terasa memiliki bobot yang berbeda. Itu bukan lagi sekadar "membuat kopi"; itu adalah penghormatan terakhir untuk sebuah perjalanan panjang.

Di sinilah film ini secara visual membuktikan apa yang kita bahas dalam ‘Coffee Atlas’ (Hari 8). Artikel kita memetakan dunia di atas kertas, menjelaskan secara teoretis mengapa terroir (tanah, iklim, ketinggian) di Afrika menghasilkan kopi yang berbeda dari Amerika Latin. ‘A Film About Coffee’ menunjukkannya kepada kita. Kita tidak hanya membaca tentang "Sabuk Kopi"; kita melihat pegunungan berkabut di Honduras. Kita melihat tanah merah subur di Rwanda. Film ini menghubungkan geografi abstrak dengan realitas visual yang menakjubkan. Ketika seorang barista di Tokyo (dari salah satu kedai kopi terbaik, Bear Pond Espresso) berbicara tentang bagaimana dia mencari "rasa" tertentu, kita sadar dia tidak sedang mengada-ada. Dia mencari ekspresi dari tempat spesifik di belahan dunia lain.

Secara sinematik, film ini adalah sebuah kemewahan. Setiap bidikan adalah "coffee porn" dalam artian terbaiknya: uap yang mengepul dari cangkir, tetesan kopi yang berkilauan saat jatuh, tekstur biji kopi yang disangrai dengan sempurna. Namun, estetika ini bukanlah tujuan. Estetika yang indah ini adalah argumen dari film itu sendiri. Loper menggunakan sinematografi yang lambat dan penuh perhatian untuk memaksa penonton mengadopsi pola pikir yang sama. Film ini melambat, meminta kita untuk memperhatikan detail, sama seperti seorang barista yang memperhatikan berat timbangan digitalnya, atau seorang petani yang memperhatikan warna ceri kopinya.

Pada akhirnya, ‘A Film About Coffee’ adalah film yang sangat optimis. Ini adalah perayaan atas sebuah gerakan—sebuah gerakan yang berusaha mengubah kopi dari komoditas tanpa jiwa menjadi sebuah kerajinan tangan global. Ini adalah argumen kuat mengapa kita harus peduli. Mengapa kita harus bertanya: "Kopi ini dari mana?"

Setelah menonton film ini, secangkir kopi pagi Anda tidak akan pernah terasa sama. Anda akan memegangnya dengan sedikit lebih hormat. Anda akan mencicipinya dengan sedikit lebih banyak perhatian. Film ini tidak hanya memberi Anda informasi; ia memberi Anda konteks dan koneksi. Ini adalah tentang bagaimana sebuah komunitas global yang terdiri dari para petani, pemetik, penyangrai, dan barista, bekerja bersama melintasi benua untuk menciptakan satu momen kecil yang sempurna di pagi hari Anda.

Warisan dalam Secangkir Kopi

Menyeduh dan menikmati secangkir kopi specialty, setelah memahami perjalanan di baliknya, berhenti menjadi sekadar transaksi konsumsi. Ini menjadi sebuah tindakan partisipasi. Di dunia yang terobsesi dengan kecepatan dan efisiensi, film ini menunjukkan kepada kita sebuah industri yang justru bergerak ke arah yang berlawanan: menuju kelambatan, perhatian, dan penghargaan terhadap proses.

Pada intinya, ini menyentuh kebutuhan kita yang paling dalam untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Dengan memilih untuk menghargai secangkir kopi—untuk peduli pada asalnya, untuk menghormati pembuatnya—kita sebenarnya sedang berpartisipasi dalam sebuah tindakan kebaikan kolektif. Kita menjadi bagian dari cerita yang memastikan bahwa keahlian ini, yang diturunkan dari generasi ke generasi petani dan disempurnakan oleh para artisan modern, tidak hilang ditelan industrialisasi. Kita membantu memastikan bahwa karya mereka dihargai dengan layak, memungkinkan mereka untuk terus berinovasi dan mewariskan pengetahuan mereka. Dengan setiap tegukan yang kita minum dengan sadar, kita tidak hanya mengonsumsi produk; kita membantu melestarikan sebuah warisan keahlian manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *